Ketika Mereka bertanya kenapa mereka seperti itu?

Lahir dari pasangan guru, aku seolah sudah terdidik disiplin dan bermoral baik. Maklum, kedua orang tuaku mendidik aku dengan dengan keras. Maksudku keras disini bukan kekerasan yang seperti dibayangkan; dipukuli, di tendang, diancam, dll. Mungkin benar aku memang dididik nyaris seperti itu. Namun aku juga menyadari, maksud mereka melakukan itu hanyalah demi mendidik anaknya menjadi orang yang tegas dalam bertindak. Aku berpikir, mereka bukan mendidikku keras, tapi lebih tepatnya tegas. Tegas, merupakan suatu kekerasan yang tetap memandang segala sesuatu dengan akal sehat. Sedangkan keras, segalanya dipandang dengan emosi. Lebih fatal lagi jika emosi ini tak terkontrol. Banyak cara mendidik anak pada masyarakat akhir-akhir ini cenderung memanjakan anak. Mungkin ini tampak lebih manusiawi terhadap kehidupan masa muda anak-anak. Tapi jika disangkut-pautkan dengan masa depannya bisa jadi kebalikannya. Anak yang terdidik manja, penuh kasih sayang, dan dilindungi tentunya tak akan sanggup mandiri dalam menghadapi hidup yang bisa kita sebut keras ini. Beberapa pengamatan yang telah aku lakukan, menunjukkan bahwa anak yang “dimanja” oleh orang tuanya cenderung lebih sulit diatur dan sering melanggar aturan. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu pengaruh dari terlalu dilindunginya seorang anak sehingga anak tak mengenal lebih dekat aturan tersebut. Bisa jadi pada akhirnya perlakuan seperti itu akan membuat terjadinya suatu deskriminasi. Deskriminasi yang dimaksud disini adalah ketika anak yang “manja” tadi diberikan sebuah toleransi tersendiri -dengan notabene pembuat aturan adalah orangtua sang anak- akan membuat anak lain yang menjalankan aturan yang sama dan tidak mendapatkan toleransi akan merasakan ketidakadilan. Lebih parahnya lagi ketidakadilan ini akan membuat sang anak yang semula patuh dan taat pada aturan akan berbalik arah dan justru menyerang aturan itu sendiri. Didikan seorang anak tentu takkan bis lepas dari orang tua sang anak itu sendiri. Sebagian besar dari pengamatanku dapat disimpulkan, kebanyakan anak yang manja sebagian besar berasal dari keluarga yang relatif berkecukupan. Namun terdapat juga beberapa anak yang berasal dari keluarga yang berlatar belakang “mampu” tidak memiliki sifat manja yang berlebihan. Ternyata perbedaannya ada disini, anak-anak yang manja tersebut terlahir dalam kondisi keluarga yng sudah mapan, sehingga tak merasakan sulitnya hidup. Sebaliknya, anak yang tidak manja kebanyakan dari mereka sempat mengalami pengalaman hidup yang berat sehingga mereka mampu memilah dan memilih jalan hidup mereka sendiri

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / This is The World!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger