Ketika mendengar kata zuhud, terlintas dalam pikiran kita adalah kehidupan yang meninggalkan atau menjauhi kehidupan dunia. Yang namanya menjauhi kehidupan dunia tentu merupakan hal yang sulit dilakukan orang-orang saat ini. Namun tak selamanya zuhud tampak demikian. Belum tentu hal yang tampaknya meninggalkan keduniaan itu merupakan zuhud, dan juga sebaliknya. Kehidupan yang yang bergelimang kemewahan dan harta itu tidak zuhud. Zuhud sebenarnya merupakan suatu sikap kita yang tidak merasa ingin memiliki dan berambisi untuk menguasai. Jadi, zuhud itu merupakan cara atau metode untuk menjaga jarak dengan dunia, bukan meninggalkannya. Maka gunakanlah kehidupan dunia ini –harta, keturunan, akal pikiran- sebagai suatu sarana, bukan tujuan hidup. Ingat kawan, hidup ini hanya transit! Alias sementara! Banyak orang yang memiliki tujuan hidup seperti memiliki anak yang cerdas, kaya, dan sebagainya. Namun jika kita amati lagi, keinginan seperti itu malah justru membebani kita dalam hidup. Seolah-olah pikiran kita berkata “harus tercapai!”. Belum lagi jika kita sudah mendapatkan keinginan itu dan kita sudah terlanjur senang kemudian hilang begitu saja. Sakit hati kan?? nah, sebaiknya tujuan hidup ini kita bikin saja untuk akhirat. Tercapai atau tidak kita akan tau esok, dan jangan sampai menyesal. Sebaiknya kita tidak terlalu senang dengan apa yang didapat dan terlalu sedih dengan apa yang hilang. Dengan melakukan zuhud alias menjaga diri dari dunia kita akan merasa tentram dalam hidup. Karena, kita tidak merasa iri atau ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain atau merasa tertekan dengan apa yang dimiliki orang lain. Hm, sekarang kita bahas orang-orang yang berkata bahwa zuhud itu meninggalkan pakaian yang mewah dan harta kekayaan. Maksud ini sebenarnya benar, namun salah jika niatnya salah. Yang dimaksud berniat salah misalnya, agar dipuji orang lain, dianggap alim, dan lain-lain. Lebih baik lagi kalau ke-zuhud-an itu disembunyikan, hanya kita dan Allah yang tahu. Ciri-ciri seorang zuhud yang saya dapatkan dari sebuah buku, 1. Tidak merasa bangga dengan apa yang ada dalam dirinya dan tidak merasa sedih jika kehilangannya. 2. Tidak merasa bahagia dengan pujian yang diberikan orang lain tidak merasa sedih atau marah dengan cercaan orang lain. 3. Selalu mengutamakan cintanya kepada Allah dan membatasi cintanya pada dunia. Kalau dilihat-lihat yang paling sulit ciri-ciri ketiga. Terkadang manusia memang lebih mencintai kekasihnya daripada mencintai-Nya dan kekasih-Nya. Alangkah baiknya jika kita mampu melatih diri kita untuk zuhud. Berniat untuk menjadi zahid (orang yang zuhud) sudah baik jika kita tak mampu melakukannya. Cara berlatihnya terapkan dalam hidup kita sabar, syukur, jangan sombong, tidak berbangga diri, hemat, dan selalu ingat dengan Sang Pencipta, Allah SWT.
Pripyat (bahasa Ukraina: При́п'ять, Pryp'yat’; bahasa Rusia: При́пять, Pripyat’) adalah kota mati yang terletak di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Oblast Kiev, Ukraina bagian utara, tidak jauh dari perbatasan dengan Belarus.[2]
Kota ini memiliki status khusus sebagai kota yang berada di bawah pengawasan langsung Oblast Kiev walaupun sebenarnya masih dalam cakupan wilayah Raion Ivankiv. Kota ini juga diawasi oleh Kementerian Keadaan Darurat Ukraina sebagai bagian dari wilayah yang terletak dalam zona alienasi.
Pripyat didirikan pada tahun 1970 sebagai tempat tinggal bagi karyawan PLTN Chernobyl. Kota ini diresmikan pada tahun 1979, tetapi ditinggalkan penghuninya pada tahun 1986 pasca bencana Chernobyl. Pada masanya, Pripyat merupakan kota nuklir kesembilan (bahasa Rusia: атомоград, atomograd, secara harfiah 'kota atom') di Uni Soviet dan memiliki populasi kira-kira 50.000 jiwa sebelum terjadi bencana.
Stasiun Yanov (bagian dari jalur kereta api Chernigov-Ovruch) terletak kurang dari 1 km dari pusat kota. Selain itu, kota itu juga dilintasi aliran Sungai Pripyat yang dapat dilayari.


Pintu Masuk Kota

video tentang pripyat (english)<<< click here
video reaktor 4 yang meledak
The town of Kolmanskop in the harsh Namibia desert was a boom town at one time but is abandoned today except for the steady stream of curious tourists who come daily to see how the sand is reclaiming the town.

Image via Wikipedia
Reportedly diamonds were so plentiful in the area they could simply be plucked right off the ground. The area was soon flooded with diamond seekers hoping to make a quick fortune. The boom town of Kolmanskop sprang from nothing and in a short period of time had a hospital, casino, theater, school, ballroom, power station and even a skittle alley.

Source (Kolmanskop skittle alleys)
Diamonds were easy to find at first and from 1911 to 1914 some 5 million karats (2,200 lbs) of diamonds were found. Kolmanskop boomed to handle the demand. But as time went went by the diamonds were harder to find and in 1926 a new diamond field was discovered further south near Oranjemund.

Source
Kolmanskop saw a rapid and steady decline of people and became totally abandoned in 1956 and became a ghost town.

Source (Last one out turned off this old light switch)

Source (Once the people left even the rats could not survive)
Today, Kolmanskop is a popular tourist attraction run by the Namibia-De Beers company and daily guided tours leave from Luderitz every morning.

Source
The ghost town has also been used as a film set. Scenes from the 1993 movie Dust Devil and the entire 2000 movie The King is Alive were filmed at Kolmanskop.

Source
Visitors to Kolmanskop can see a well preserved ghost town where some restoration has taken place.

Image via Wikipedia
But most of the town has been overrun by the unrelenting desert wind and sands which have not really destroyed the place, just filled it up.

Source

To learn more about the Namib Desert area which has the largest sand dunes in the world please see Namib Desert: A Hauntingly Beautiful Place. You can see the largest canyon in Africa and second largest canyon in the world here Fish River Canyon. And see great animals of Namibia at Magnificent Animals of Etosha National Park.
Read more: http://trifter.com/africa/south-africa/kolmanskop-ghost-town/#ixzz1rWdaSaDO
Syekh Muhammad Bahauddin An Naqsabandiy Ra. Adalah seorang Wali Qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah sebuah thoriqoh yang sangat terkenal dengan pengikut sampai jutaan jama’ah dan tersebar sampai ke Indonesia hingga saat ini.
Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.
Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.
Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.
Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.
Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”
Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.
Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :
1. Istiqomah mengukuhkan syariat.
2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.
3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.
Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.
Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.
Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…
Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.
Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.
Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.
Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.
Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika. Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.
Kisah ini adalah cerita Prof. DR. H.S.S. Kadirun Yahya (Bapak Prof) dalam menghadapi tekanan pandangan miring seorang muslim yang disampaikan oleh seseorang tokoh partai terlarang di Indonesia yang sangatt terkenal sebut saja "Dna".
Dalam suatu rapat nasional bersama pimpinan-pimpinan nasional, bersamaan dengan itu, Bapak Prof bertemu dengan Dna, Bapak Prof ingin menunjukkan bahwa seorang muslim yang sejati, jenius, tangguh dan bijak yang sebenarnya, bukanlah sosok yang lemah, asusila, sombong, angkuh dan congkak, yang dikiaskan dalam cerita berikut:
Zaman dahulu kabarnya binatang bisa berbicara dan bercakap-cakap. Kata shahibul hikayat, Ada dua binatang sedang berbincang-bincang antara Babi hutan dan Kancil.
Babi ini agak sedikit congkak karena ke"GR"an mempunyaii taring yang menurutnya sangat kuat, kokoh dan tangguh. Tentunya kehebatan kekuatannya ini membuat si babi ini ingin menantang siapa saja yang hebat selain dirinya. Si Babii mendengar-dengar dari semua warga hutan bahwa "manusia adalah makhluk yang sangat tangguh di hutan ini". Nah dia ingin sekali menguji coba kehebatan sang Manusia ini.
Pembicaraan Babi dengan kancil, " Ada yang namanya manusia itu katanya hebat sekali dan selalu menang kalau beradu dengan binatang manapun, aku tidak percaya dan ingin mencoba bertanding dengannya, benarkah demikian cil..?" Maka kancil berkata, "Itu benar Babi, jangan coba-coba kau melawan dia" "Tapi, aku punya taring yang kuat ini dan kekuatan yang luar biasa, kalau dibuat menyeruduk, maka kiranya mampus yang namanya manusia itu." kancil berkata, "Benarkah engkau akan mencoba bertarung dengan dia"tanya si kancil. "Iya betul, kalau tidak ada bukti aku tidak akan percaya dengan kesaktian manusia" sahut Babi. "Oh..iya, kebetulan ada jalan yang biasa dilewati manusia dan mari kita ke sana bersama" kata kancil. "Oh...iya mari," jawab Babi. "Tapi begini Babi, kalau nanti ada manusia yang lewat aku akan beritahu dan jangan engkau menyerang sebelum aku bersembunyi terlebih dulu di sumber air di ujung hutan ini, ya" kata kancil. "Oh ya, baiklah kalau begitu" kata Babi. A
Kedua binatang itu bersembunyi dibalik rerumputan di pinggir jalan. Hari yang masih pagim, lewatlah seorang anak sekolah berusia 9 tahun berangkat ke sekolah melewati pinggiran hutan. Bertanya si Babi itu kepada kancil, " Apakah seperti itu Cil, si manusia?". "Bukan, itu bukan manusia tetapi masih bakal manusia" jawab kancil.
Pada siang hari seorang nenek tua renta berjalan melewati jalan yang diperhatikan oleh si kancil dan babi, nenek tersebut sedang mengumpulkan ranting-ranting di sekitar jalan yang dilewatinya lalu babi bertanya lagi "Hai kancil, itukah manusia?" maka kancil menjawab dengan santainya, "itu mantan manusia, bukan dong"
Menjelang mendekati sore hari, lewatlah seorang pemburu, yang menyandang "senapan berloop dua" (sejenis senjata laras panjang dipanggul di punggungnya) dengan sangkur yang terselip di pinggangnya. Lalu bertanya si babi pada si kancil, "Apa itu yang disebut manusia?". "Oh ya betul, itulah yang dinamakan manusia itu. Tapi jangan kau menyerang dulu, aku akan menyingkir dulu baru nanti kalau aku memberi aba-aba serang, kamu baru melakukan penyerangan" jawab kancil. "Oh iya, baiklah" kata babi." manusia itu pun mulai dekat jaraknya dengan babi. Maka kancil memberi aba-aba "Siap tempur" seketika itu babi menyerang manusia, begitu pemburu itu mengetahui babi akan menubruk dengan taringnya, maka dengan secepat kilat pemburu itu mencabut pedangnya yang ada di pinggangnya lalu diayunkan ke kepala babi maka putuslah telinga babi tersebut, setelah akan balik menyerang, maka ditariklah pelatuk senapannya maka remuklah kaki depan babi, lalu ia lari sambil tertatih-taih menuju tempat kesepakatan sewaktu sebelum melakukan penyerangan..
Si kancil menyapa babi yang sedang merintih kesakitan. Menanyakan bagaimana kabar dari pertempuran yang baru terjadi. Maka babi bercerita "Ya memang hebat manusia itu, seperti katamu. Bagaimana tidak hebat... ketika aku akan menubruknya dengan taringku ini, tiba-tiba ia mencabut tulang rusuknya lalu ia menebas telingaku hingga putus seperti yang kau lihat sekarang. Ketika aku akan berbalik akan menerjangnya lagi maka seketika itu ia mengambil tulang punggungnya hingga remuklah kaki depanku maka aku sampai tidak bisa berjalan seperti ini. Maka aku mengakui manusia itu hebat."
Begitu cerita Bapak Prof. Kepada Dna
"Hai sdr Dna, jika anda selalu mengkritik tentang Islam yang selalu kurang di pola pikir anda, inilah produk Islam yang seutuhnya (sambil Bapak Prof menunjukkan dirinya kepada Dna), manusia sang pemburu seperti cerita tadi, muslim seutuhnya tidak sama dengan yang anda nilai" begitulah sentilan Bapak Prof kepada Dna. Dna benar-benar tersentak dengan teguran Bapak Prof yang serius menantang Dna dalam pembuktian sebagai insan Illahi yang seutuhnya, yang sebelumnya Dna anggap sebagai bualan dan khayalan saja. Dna benar-benar diam seribu bahasa menerima tantangan Bapak Prof yang terkenal dengan kecendekiawannya, kejendralannya, kealimannya dan kehebatan-kehebatan yang lain.
Asal-usul cerita itu dikeluarkan karena Dna mencibir agama Islam. Ia melihat "Seorang anak pak kiyai meminum-minuman keras, seorang pak haji doyan wanita, seorang ustad doyan korupsi, seorang beragama merampok dan lain-lain. Kalau itu, apa guna agama Islam itu? Islam sebagai agama candu belaka, tak ada artinya apa-apa, mendingan tak beragama dan ikut komunis atau atheis tak berTuhan". Mendengar perkataan Dnat itu, maka Bapak Prof menyampaikan cerita kiasnya itu untuk benar-benar membuktikan produk Islam yangg seutuhnya tersebut sebagai sosok insan Illahi kamil mukamil.
Di atas adalah perbedaan sebagai tamsilan bagi orang yang sudah menjalankan Islam secara kaffah/komplit/lengkap yang tentunya mempraktekkannya dengan metode yang smart sehingga mengeluarkan energi dan power yang rahmatan lil alamin kepada sekitarannya. Kesungguhan dan kesabaran untuk mengasah intan yang telah diberikan oleh Allah SWT di dalam diri kita semua, sehingga kilaunya saja sudah membuat hati semua insan tertarik untuk mencoba memegangnya dan memilikinya.
