ZUHUD DARI DUNIA

Ketika mendengar kata zuhud, terlintas dalam pikiran kita adalah kehidupan yang meninggalkan atau menjauhi kehidupan dunia. Yang namanya menjauhi kehidupan dunia tentu merupakan hal yang sulit dilakukan orang-orang saat ini. Namun tak selamanya zuhud tampak demikian. Belum tentu hal yang tampaknya meninggalkan keduniaan itu merupakan zuhud, dan juga sebaliknya. Kehidupan yang yang bergelimang kemewahan dan harta itu tidak zuhud. Zuhud sebenarnya merupakan suatu sikap kita yang tidak merasa ingin memiliki dan berambisi untuk menguasai. Jadi, zuhud itu merupakan cara atau metode untuk menjaga jarak dengan dunia, bukan meninggalkannya. Maka gunakanlah kehidupan dunia ini –harta, keturunan, akal pikiran- sebagai suatu sarana, bukan tujuan hidup. Ingat kawan, hidup ini hanya transit! Alias sementara! Banyak orang yang memiliki tujuan hidup seperti memiliki anak yang cerdas, kaya, dan sebagainya. Namun jika kita amati lagi, keinginan seperti itu malah justru membebani kita dalam hidup. Seolah-olah pikiran kita berkata “harus tercapai!”. Belum lagi jika kita sudah mendapatkan keinginan itu dan kita sudah terlanjur senang kemudian hilang begitu saja. Sakit hati kan?? nah, sebaiknya tujuan hidup ini kita bikin saja untuk akhirat. Tercapai atau tidak kita akan tau esok, dan jangan sampai menyesal. Sebaiknya kita tidak terlalu senang dengan apa yang didapat dan terlalu sedih dengan apa yang hilang. Dengan melakukan zuhud alias menjaga diri dari dunia kita akan merasa tentram dalam hidup. Karena, kita tidak merasa iri atau ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain atau merasa tertekan dengan apa yang dimiliki orang lain. Hm, sekarang kita bahas orang-orang yang berkata bahwa zuhud itu meninggalkan pakaian yang mewah dan harta kekayaan. Maksud ini sebenarnya benar, namun salah jika niatnya salah. Yang dimaksud berniat salah misalnya, agar dipuji orang lain, dianggap alim, dan lain-lain. Lebih baik lagi kalau ke-zuhud-an itu disembunyikan, hanya kita dan Allah yang tahu. Ciri-ciri seorang zuhud yang saya dapatkan dari sebuah buku, 1. Tidak merasa bangga dengan apa yang ada dalam dirinya dan tidak merasa sedih jika kehilangannya. 2. Tidak merasa bahagia dengan pujian yang diberikan orang lain tidak merasa sedih atau marah dengan cercaan orang lain. 3. Selalu mengutamakan cintanya kepada Allah dan membatasi cintanya pada dunia. Kalau dilihat-lihat yang paling sulit ciri-ciri ketiga. Terkadang manusia memang lebih mencintai kekasihnya daripada mencintai-Nya dan kekasih-Nya. Alangkah baiknya jika kita mampu melatih diri kita untuk zuhud. Berniat untuk menjadi zahid (orang yang zuhud) sudah baik jika kita tak mampu melakukannya. Cara berlatihnya terapkan dalam hidup kita sabar, syukur, jangan sombong, tidak berbangga diri, hemat, dan selalu ingat dengan Sang Pencipta, Allah SWT.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / This is The World!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger